Jumat, 29 Mei 2015

Memaksimalkan Bonus Demografi



Memaksimalkan Bonus Demografi

Bonus demografi merupakan sebuah kondisi dimana sebuah daerah atau negara yang memiliki jumlah penduduk umur produktif sangat besar, sementara usia muda sedikit dan usia lanjut belum banyak. Salah satu penyebab adanya bonus demografi adalah keberhasilan program KB (Keluarga Berencana) pada tahun 1970. Melimpahnya penduduk usia produktif akan berdampak positif apabila dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan penduduk. Akan tetapi, juga akan berdampak negatif apabila kedatangannya tidak dipersiapkan.
Untuk memaksimalkan bonus demografi penulis merumuskan dua solusi yaitu:
1.      Sumber daya manusia yang berkualitas
Kualitas sumber daya manusia sangat dipengaruhi oleh pendidikan. Menyadarkan masyarakat akan pentingnya pendidikan adalah langkah awal yang perlu dilakukan. Pandidikan tidak hanya sebatas pendidikan formal di sekolah tetapi, ada pendidikan non formal dan informal. Misalnya mengikuti kursus keterampilan menjahit, komputer, bengkel, dan lain-lain. Belajar di TBM (Taman Baca Masyarakat) juga dapat dijadikan solusi. Memaksimalkan penggunaan internet misalnya untuk mendownload e-book, mencari lowongan kerja, dan mencari relasi sebanyak-banyaknya.
2.      Dapat terserapnya sumber daya manusia yang berkualitas di pasar kerja
Sumber daya manusia yang berkualitas adalah mereka yang mampu bekerja secara profesional. Oleh karena itu, masyarakat harus dibekali keterampilan. Penulis mengambil contoh dari suatu desa yaitu Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Masyarakatnya mampu mengubah desa tertinggal menjadi rintisan desa pariwisata dan ekonomi kreatif. Adanya inisiatif dari kaum muda untuk memaksimalkan potensi lokal yaitu adanya tradisi  bersih desa dengan mengadakan pergelaran wayang setiap tahunnya bisa dijadikan daya tarik wisata. Tradisi lain yang dijadikan daya tarik wisata adalah nydran (ziarah ke setiap makan di desa menjelang bulan Ramadhan), dawuhan (ritual minta hujan yang diadakan di salah satu bukit), dan nawu kali (menguras semua sungai yang ada di desa). Adapula keseniannya yaitu reog, rebana, campur sari, dan dangdut. Untuk ekonomi kreatifnya setiap warga mempunyai keterampilan yang berbeda-beda dalam hal kuliner antara lain marning, bakpia, kripik singkong, kripik pisang, krupuk, dan lain-lain. Di salah satu dusun yaitu Dusun Sipenggung terdapat kelompok tani wanita yang memberikan keterampian bagaimana bercocok tanam, mengolah produk, dan memasarkannya.
Bertepatan dengan pendataan keluarga Provinsi Jawa Tengah dimana penulis juga terlibat sebagai orang yang melakukan sensus. Pendataan demografi keluarga meliputi: KKI (komputerisasi), NIK (Nomor Induk Keluarga), nama individu keluarga, tanggal lahir, umur, hubungan dengan keluarga, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, status kawin, kepemilikan tempat tinggal, kepemilikan akte kelahiran, kepemilikan KTP. Data keluarga berencana meliputi: Pasangan Usia Subur (PUS); peserta KB menurut tempat pelayanan (pemerintah dan swasta), jenis (modern dan atau tradisional) dan waktu memakai alokon terakhir; bukan peserta KB, yang berstatus: hamil, ingin anak segera, ingin anak ditunda, tidak ingin anak lagi. Dan data tahapan keluarga sejahtera meliputi: indikator tahapan keluarga sejahtera dan tahapan kelurga sejahtera.
Tujuan umum diselenggarakannya pendataan keluarga adalah tersedianya data keluarga by name by addres untuk dipergunakan dalam penetapan sasaran, dan optimalisasi operasional program pembangunan KKBPK, serta berbagai program pembangunan lainnya. Adapun tujuan khususnya adalah tersedianya database demografi keluarga di setiap tingkatan wilayah, tersedianya database keluarga berencana di setiap tingkatan wilayah, dan tersedianya database keluarga menurut tahapan keluarga sejahtera di setiap tingkatan wilayah.
            Semoga dengan adanya bonus demografi ini, Indonesia bisa menjadi lebih maju.

Minggu, 26 April 2015

Peran Pusat Informasi dan Konseling (PIK) dalam Pengendalian Jumlah Penduduk dan Tenaga Kerja



Peran Pusat Informasi dan Konseling (PIK) dalam Pengendalian
Jumlah Penduduk dan Tenaga Kerja

Berbicara masalah kependudukan dan ketenagakerjaan terlihat begitu luas. Oleh karena itu penulis akan membatasi pokok pembahasan, yaitu mengenai pengendalian jumlah penduduk melalui Pusat Informasi dan Konseling. Tulisan ini berdasarkan pengalaman penulis di lapangan saat menjalani KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Desa Rogomulyo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah dari tanggal 3 Maret sampai 15 April 2015. KKN yang diikuti penulis saat itu adalah KKN tematik POSDAYA berbasis masjid.
Untuk mengendalikan jumlah penduduk dan untuk mendapatkan tenaga kerja yang profesional hal yang pertama harus dibangun adalah kualitas sumberdaya manusianya. Berdasarkan pengalaman penulis selama menjadi anggota PIK SAHAJASA (Pusat Informasi dan Konseling Sahabat Remaja Salatiga). Penulis menerapkan program GenRe (Generasi Berencana) yaitu dengan melakukan bimbingan konseling pada remaja setempat. Materi yang diberikan berupa motivasi, materi tentang pendewasaan usia perkawinan, pembekalan berupa keterampilan hidup, cara mengelola emosi dan spiritual, serta renungan.
Berikut penulis akan menguraikan beberapa materi yang telah penulis sampaikan pada masyarakat:
Acara konseling penulis adakan pada hari Minggu 29 Maret 2015 dengan dibantu rekan-rekan kelompok KKN. Penulis mengundang remaja setempat untuk jalan-jalan pagi. Di pagi hari yang masih segar para remaja diajak untuk berolahraga terlebih dahulu. Setelah itu para remaja diberi motivasi yaitu bagaimana mengenal dirinya sendiri, mengenali kelebihan dan kelemahannya, berbagi pengalaman bagaimana mengisi masa muda, bagaimana menentukan tujuan masa depan dan cara mencapainya, serta mengadakan renungan.
Untuk mengenali diri sendiri penulis menyuruh para remaja untuk menuliskan hal-hal yang disukainya dan hal-hal yang tidak disukai. Kemudian penulis menerangkan bahwa apa yang menjadi kegemarannya adalah kelebihannya dan harus dimaksimalkan. Untuk hal-hal yang tidak disukainya adalah hal-hal yang perlu diperbaiki, dan jangan fokus pada kelemahan tetapi fokuslah pada memperbaiki diri dan memaksimalkan potensi.
Selanjutnya penulis berbagi pengalaman tentang bagaimana mengisi masa muda. Poin yang pertama adalah memperluas pergaulan. “Silahkan bergaul dengan siapa saja. Dalam bergaul kalian sudah dewasa tentunya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jangan sampai terwarnai tapi kalian harus bisa memberi warna.” Poin yang kedua adalah menjaga sikap. “Untuk mengubah dunia, hal yang kita harus rubah adalah cara berfikir kita. Tanamkan pola pikir sukses, bermanfaat bagi sesama, mengangkat derajad orang tua, dan selalu berproses menjadi orang yang lebih baik. Sikap yang baik salah satunya adalah selalu semangat. Penulis mengajak para remaja untuk membedakan cara berjalannya seorang dosen dan seorang pengemis. Cara kita bersikap akan mempengaruhi cara berpikir kita.” Poin yang ketiaga adalah menjaga ucapan. “Berkatalah yang baik atau diam. Mulut teko hanya akan mengeluarka isi yang ada di dalam teko. Mulailah mengucapkan kata-kata yang positif dan tinggalkan kata-kata negatif. Kita bangun diri mulai dari hal-hal terkecil dan mulai dari sekarang.” Poin keempat adalah menumbuhkan minat baca. Penulis dan rekan-rekan KKN tidak hanya memberikan teori dan motivasi tetapi juga memberikan solusi yaitu dengan mendirikan Taman Baca Masyarat (TBM). Penulis dan rekan-rekan KKN meminta bantuan buku dari berbagai pihak. Setelah terbentuk TBM kemudian dibentuk kepengurusan TBM.
Selanjutnya adalah bagaimana menentukan tujuan masa depan dan cara mencapainya. “Jangan takut bermimpi. Mimpilah setinggi langit kalaupun harus terjatuh setidaknya masih di atas awan. Tuliskan mimpi-mimpi kalian. Sesuatu yang divisualisasikan akan mendekatnyan pada kenyataan. Buat mind mapmengenai mimpi-mimpi kalian dan cara mencapainya, pasang target: harian, mingguan, bulanan, tahunan, dan seterusnya. Buat tujuan sejelas-jelasnya.”
Acara yang terakhir adalah dengan mengadakan renungan. Renungannya berupa jasa-jasa orang tua terhadap anaknya, cara berbakti seorang anak pada orang tua, contoh kedurhakaan anak pada orang tua, apa yang terjadi seandainya orang tua telah tiada, dan penyadaran kembali karena itu hanya sebatas mimpi karena kita masih punya kesempatan untuk berbakti pada orang tua. Berdasarkan pengamatan penulis semua peserta menangis, hal ini menandakan hati nurani para remaja masih hidup dan siap menjadi generasi yang selalu memperbaiki diri.
            Mengenai materi pendewasaan usia perkawinan penulis sisipkan di berbagai kegiatan sehingga sifatnya kondisional. Misal saat TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an), jalan-jalan santai, dan curhat(curahan hati). Penulis dan rekan-rekan KKN menempatkan diri sebagai teman sehingga para remaja bisa menjadi terbuka dan bimbingan konselingpun dapat berjalan dengan santai.
Selain remaja yang menjadi objek peningkatan kualitas sumberdaya manusia orang tua juga dilibatkan dan diberikan bekal untuk mendidik putra putri mereka. Materi ini penulis sampaikan pada acara PKK dan pengajian. Materi yang penulis dan rekan-rekan KKN sampaikan diantaranya adalah cara membangun komunikasi dengan anak, pergaulan remaja melalui dunia maya, dan memberikan keterampilan dengan memanfaatkan potensi lokal. Keterampilan yang diberikan berupa cara pengolahan jamu dan pembuatan kerupuuk. Sehingga diharapkan orang tua dan anaknya bisa menjadi pengusaha.
Tidak kalah penting yang perlu dibekalkan pada remaja dan orang tua adalah aspek spiritual. Dengan adanya kecerdasan spiritual, seseorang akan merasa dekat dengan Tuhannya, sehingga perilakunya senantiasa terkendali. Pembinaan yang penulis dan rekan-rekan KKN tidak berhenti sampai habisnya masa KKN tetapi terus berlanjut sehingga menjadi desa binaan.
Untuk memecahkan masalah kependudukan dan ketenagakerjaan secara nasional memang tidaklah mudah. Akan tetapi dari aksi-aksi kecil kita bisa berkontribusi dalam pembangunan negara.


Bermain bersama remaja Desa Rogomulyo Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Semarang

Pemberian materi motivasi dan renunungan

Jalan-jalan pagi


acara pemberdayaan ekonomi masyarakat
Rekan-rekan KKN IAIN Salatiga

Membaca bersama di Taman Baca Masyarakat


Pengajian yang disisipi materi pendidikan anak

Anjangsana ke rumah warga disambung dengan diskusi

Rabu, 12 Desember 2012

Emotional Intelligence


RESENSI BUKU
Judul buku                  : Emotional Intelligence
Penulis                         : Daniel Goleman
Judul terjemahan         : Kecerdasan Emosional
Alih bahasa                 : T. Hermaya
Tahun terbit                 : 1997
Tebal                           : 497 halaman
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
            Penulisan buku dilatar belakangi terkuaknya cara kerja otak diantaranya bagaimana sel-sel bekerja sementara kita berpikir dan merasa, berimajinasi dan bermimpi. Pemahaman mengenai cara kerja emosi dan kelemahan emosi yang tidak pernah terjadi sebelumnya ini membawa kita ke suatu fokus mengenai pola penanggulangan baru bagi krisis emosi masyarakat. Emosi merupakan wilayah yang pada umumnya tak terjelajah oleh psikologi ilmiah.
            Pokok bahasan yang termuat dalam buku ini yaitu bagian satu berisi otak emosional meliputi apa kegunaan emosi dan anatomi pembajakan emosi. Bagian dua berisi ciri-ciri kecerdasan emosional meliputi kapan yang pintar itu bodoh, kenali diri anda, budak nafsu, kecakapan utama, akar empati, dan seni sosial. Bagian tiga berisi penerapan kecerdasan emosional meliputi musuh-musuh keintiman, manajemen dengan berpatokan pada perasaan, pikiran dan pengobatan. Bagian empat berisi kesempatan emas meliputi wadah penggodokan keluarga, trauma dan pembajakan ulang emosi, dan tempramen buakanlah suratan takdir. Bagian lima berisi kecakapan emosional meliputi keruguian buta emosi dan pendidikan emosi.
            Hubungan bagian satu hingga bagian lima yaitu dengan mengenali otak emosional akan memahami ciri-ciri kecerdasan emosional kemudian terjadilah penerapan kecerdasan emosional dengan memanfaatkan kesempatan emas sehingga melahirkan kecakapan emosional.
            Cara kerja otak emosional pertama-tama sinyal visual dikirim dari retina ke talamus yang bertugas menerjemahkan sinyal itu ke dalam bahasa otak. Sebagian besar otak itu kemudian ke korteks visual yang menganalisis dan menentukan makana dan respons yang cocok; jika respons bersifat emosional, suatu sinyal dikirim ke amigdala untuk mengaktifkan pusat emosi. Tetapi, sebagian kecil sinyal asli langsung  menuju amigdala dari talamus dengan trasnsmisi yang  lebih cepat, sehingga memungkinkan adanya respons yang lebih cepat meski kurang akurat. Jadi, amigdala dapat memicu suatu respons emosional sebelum pusat-pusat korteks memahami betul apa yang terjadi.
            Menurut Mayer, orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka:
1.      Sadar diri. Peka akan suasana hati mereka ketika mengalaminya. Dapat dimengerti bila orang-orang ini memiliki kepintaran tersendiri dalam kehidupan emosional mereka. Kejernihan pikiran tentang emosi boleh jadi melandasi ciri-ciri kepribadian antara lain: mereka mandiri dan yakin akan batas-batas yang mereka bangun, kesehatan jiwanya bagus, dan cenderung berpendapat positif akan kehidupan. Bila suasana hatinya sedang jelek, mereka tidak risau dan tidak larut ke dalamnya, dan mereka mampu melepaskan diri dari suasana itu dengan lebih cepat. Pendek kata, ketajaman pola pikir mereka menjadi penolong untuk mengatur emosi.
2.      Tenggelam dalam perasaan. Mereka adalah orang-orang yang sering kali merasa dikuasai oleh emosi dan tak berdaya untuk melepaskan diri, seolah-olah suasana hati mereka telah mengambil alih kekuasaan. Mereka mudah marah dan amat tidak peka akan perasaannya, sehingga larut dalam perasaan-perasaan itu dan bukannya mencari prespektif baru. Akibatnya, mereka kurang berupaya melepaskan diri dari suasana hati yang jelek, merasa tidak mempunyai kendali atas kehidupan emosional mereka. Seringkali mereka merasa kalah dan secara emosional lepas kendali.
3.      Pasrah. Meskipun seringkali orang-orang ini peka akan apa yang mereka rasakan, mereka juga juga cenderung menerima begitu saja suasana hati mereka, sehingga tidak berusaha untuk merubahnya. Kelihatannya ada dua cabang jenis yang pasrah ini: mereka yang terbiasa dalam suasana hati yang menyenangkan, dan dengan demikian motivasi untuk mengubahnya rendah; dan orang-orang yang kendati peka perasaannya, rawan terhadap suasana hati yang jelek tetapi menerimanya dengan dengan sikap tidak hirau, tak melakukan apapun untuk mengubahnya meskipun tertekan. Pola yang ditemukan misalnya pada orang yang menderita depresi dan yang tenggelam dalam keputusasaan.
Reaksi yang terjadi pada nomor dua dan tiga dikenal oleh para psikiater sebagai gejala utama gangguan stres pasca trauma, atau PTSD (post traumatic stress disorder). Setiap peristiwa yang menimbulkan trauma dapat menanamkan ingatan-ingatan pemicu di amigdala. Jejak rasa takut dalam ingatan dan sikap terlalu waspada yang ditimbulkannya dapat berlangsung seumur hidup. Ketidak berdayaan sebagai pemicu PTSD telah dibuktikan dalam banyak penelitian. Perubahan-perubahan saraf pada PTSD agaknya juga membuat seorang lebih mudah mengalami trauma lebih lanjut. Semua perubahan saraf ini memberikan keuntungan-keuntungan jangka pendek untuk mengatasi keadaan darurat yang menegangkan dan hebat yang memicunya. Dibawah tekanan, sangatlah menguntungkan untuk menjadi sangat waspada, mudah bangkit emosinya, siap menghadapi segala sesuatu, tak mudah merasa sakit, tubuh dipersiapkan untuk menanggung tuntukan fisik yang berkelanjutan, bila ditinjau dari sisi lain merupakan peristiwa yang mengganggu.
Keuntungan jangka pendek ini menjadi masalah permanen bila otak berubah sedemikian rupa sehingga perubahan-perubahan itu menjadi sikap dasar. Ketika amigdala dan wilayah otak yang berkaitan dengannya disetel pada titik baru selama terjadinya traumadahsyat, perubahan dalam gugahan kesiapsiagaan lebih tinggi untuk memicu pembajakan saraf mengandung arti bahwa semua kehidupan berada pada ambang keadaan darurat, dan bahkan saat yang tidak berbahaya dapat menimbulkan ledakan rasa takut.
Salah satu cara yang tampaknya bisa membuat penyembuhan emosional ini berlangsung secara sepontan—sekurang-kurangnya pada anak-anak—adalah melalui permainan-permainan. Permainan ini, yang dimainkan berulang kali, membuat anak –anak menghayati kembali sebuah trauma dengan perasaan aman, trauma penyembuhan: di satu pihak, ingatan tadi diulangi dalam konteks kecemasan tingkat rendah, sehingga menumpulkannya dan memungkinkan suatu rangkaian tanggapan non traumatik untuk disosialisasikan dengannya. Jalur penyembuhan lain adalah bahwa permainan diakhiri dengan kemenangan sehingga mempertebal rasa penguasaan mereka atas traumatik yang membuat mereka tak berdaya itu.
Sementara orang dewasa yang mengalmi trauma mengerikan dapat mengalami mati rasa kejiwaan, yaitu menghilangnya ingatan atau perasaan mengenai malapetaka tersebut. Langkah-langkah menuju pemulihan trauma menurut Herman terbagi menjadi tiga tahap: mencapai perasaan aman, mengingat detail-detail trauma dan berduka atas kehilangan yang ditimbulkannya, yang terakhir menata ulang kehidupan agar normal kembali.
Unsur-unsur yang membangun kecerdasan emosional yaitu:
1.      Keterampilan Emosional
a.       Mengidentifikasi dan memberi nama perasaan-perasaan
b.      Mengungkapkan perasaan
c.       Menilai intensitas perasaan
d.      Mengelola perasaan
e.       Menunda pemuasan
f.       Mengendalikan dorongan hati
g.      Mengurang stress
h.      Mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan
2.      Keterampilan Kognitif
a.       Bicara sendiri—melakukan “dialog batin” sebagai cara untuk menghadapi suatu masalah atau menentang atau memperkuat perilaku diri sendiri
b.      Membaca dan menafsirkan isyarat-isyarat sosial—misalnya, mengenali pengaruh sosial terhadap perilaku dan melihat diri sendiri dalam presperktif masyarakat yang lebih luas
c.       Menggunakan langkah-langkah bagi penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan—misalnya mengendalikan dorongan hati, menentukan sasaran, mengidentifikasi tindakan-tindakan alternatif, memperhitungkan akibat-akibat yang mungkin
d.      Memahami sudut pandang orang lain
e.       Memahami sopan santun (perilaku mana yang dapat diterima dan yang tidak)
f.       Sikap yang positif terhadap kehidupan
g.      Kesadaran diri—misalnya, mengembangkan harapan-harapan yang realistis tentang diri sendiri
3.      Keterampilan Perilaku
a.       Nonverbal—berkomunikasi melalui hubungan mata, ekspresi wajah, nada suara, gerak-gerik, dan seterusnya
b.      Verbal—mengajukan permintaan-permintaan dengan jelas, menanggapi kritik secara efektif, menolak pengaruh negatif, mendengarkan orang lain, menolong sesama, ikut serta dalam kelompok-kelompok yang positif
Tujuan dari memahami kecerdasan emosional yaitu:
1.      Kesadaran diri emosional
a.       Perbaikan dalam mengenali dan merasakan emosinya sendiri
b.      Lebih mampu memahami penyebab perasaan yang timbul
c.       Mengenali perbedaan perasaan dengan tindakan
2.      Mengelola Emosi
a.       Toleransi yang lebih tinggi terhadap frustasi dan pengelolaan amarah
b.      Berkurangnya ejekan verbal, perkelahian, dan gangguan di ruang kelas
c.       Lebih mampu mengunggkapkan amarah dengan tepat, tanpa berkelahi
d.      Berkurangnya hukuman
e.       Berkurangnya perilaku agresif atau merusak diri sendiri
f.       Perasaan yang lebih positif tentang diri sendiri dan orang lain
g.      Lebih baik dalam menangani ketegangan jiwa
h.      Berkurangnya kesepian dan kecemasan dalam pergaulan
3.      Manfaat Emosi Secara Produktif
a.       Lebih bertanggung jawab
b.      Lebih mampu memusatkan perhatian pada tugas yang dikerjakan dan menaruh perhatian
c.       Kurang implusif; lebih menguasai diri
d.      Nilai pada tes-tes prestasi meningkatkan
4.      Empati: membaca emosi
a.       Lebih mampu menerima sudut pandang orang lain
b.      Memperbaiki empati dan kepekaan terhadap perasaan orang lain
c.       Lebih baik dalam mendengrkan orang lain
5.      Membina Hubungan
a.       Meningkatkan kemampuan menganalisis dan memahami hubungan
b.      Lebih baik dalam menyelesaikan pertikaian dan merundingkan persengketaan
c.       Lebih baik dalam menyelesaikan persoalan yang timbul dalam hubungan
d.      Lebih tegas dan terampil dalam komunikasi
e.       Lebih populer dan mudah bergaul, bersahabat dan terlibat dengan teman sebaya
f.       Lebih dibutuhkan oleh teman sebaya
g.      Lebih meneruh perhatian dan bertenggang rasa
h.      Lebih memikirkan kepentingan sosial dan selaras dalam kelompok
i.        Lebih suka berbagi rasa, bekerja sama, dan suka menolong
j.        Lebih demokratis dalam bergaul dengan orang lain
Kelebihan dalam buku karya Daniel Goleman:
1.      Menyajikan contoh permasalahan sehingga mudah dipahami.
2.      Menjelaskan penemuan yang dimilikinya secara ilmiah.
3.      Mampu membuat pembaca mengembangkan pemikirannya.
4.      Menyajikan penyelesaian pada setiap permasalahan.
Kekurangan dalam buku karya Daniel Goleman:
1.      Ada permasalahan yang penyelesaiannya belum tuntas.
2.      Pada sebagian bab terlalu banyak contoh cerita tetapi solusinya kurang.
3.      Terlalu bertele-tele dalam memaparkan teori.
4.      Dalam setiap penyelesaian masalah tidak pernah dikaitkan dengan macam kecerdasan lain misalnya kecerdasan spiritual. Karena pemikiran dapat mengimbangi emosi dan keduanya dapat diolah dengan kecerdasan spiritual yang baik.
5.      Belum dilengkapi dengan cara mengoptimalkan kecerdasan emosional.
Buku ini baik dibaca untuk kalangan pendidik maupun umum, terutama bagi mahasiswa yang seharusnya memahami ilmu-ilmu perilaku. Sehingga dapat mengimbangi potensi yang telah dimiliki dengan adanya pengendalian diri. Agar hasil kecerdasan lebih baik perlu diimbangi dengan membaca buku kecerdasan lain.